Headlines News :
Home » » JUDUL SKRIPSI: TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN AKAD NIKAH MELALUI TELECONFERENCE

JUDUL SKRIPSI: TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN AKAD NIKAH MELALUI TELECONFERENCE

Written By Wahyu Rishandi on Senin, 24 Desember 2012 | 19.43




ABSTRAK


Sebagaimana diketahui bahwa ala-alat komunikasi sudah semakin canggih. Kenyataan tersebut mengilhami sebagian orang untuk melangsungkan pernikahan lewat alat komunikasi seperti teleconference, karena dipandang lebih praktis apalagi bagi orang yang sibuk. Namun memutuskan hukum, tidaklah cukup hanya didasarkan atas pertimbangan kepraktisan semata. Perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang lain, sebab menurut ajaran Islam, pernikahan sangat sakral.

Dalam pembahasan skripsi ini penulis mengangkat permasalahan tentang bagaimana kedudukan akad nikah yang dilakukan melalui teleconfrence, bagaimana akibat hukum terhadap adanya pelaksanaan akad nikah melalui teleconfrence.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode telaah pustaka (library research) untuk mentelaah data-data sekunder dan penelitian lapangan (field research) yaitu dengan melakukan analisis terhadap kasus putusan Pengadilan Agama Medan.

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan, maka ditarik kesimpulan bahwa Pernikahan melalui jalur atau sarana teleconference hukumnya adalah tidak sah. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nadhatul Ulama yang menyatakan bahwa akad nikah melalui media telekomunikai (teleconference, internet, telepon dan lain-lain) adalah tidak sah, karena tidak satu majelis dan sulit dibuktikan. Di samping itu sesuai dengan pendapat Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah yang menyatakan “tidak sah akad nikah dengan surat karena surat adalah kinayah. Bahwa perkawinan yang dilakukan melalui sarana teleconference menurut hukum Islam adalah tidak sah karena tidak memenuhi persyaratan dan dengan rukunnya yang sempurna maka sebagai konsekwensi hukum perkawinan yang tidak sah maka tidak melahirkan hak dan kewajiban bagi suami isteri. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan agar calon suami isteri yang hendak melaksanakan perkawinan hendaknya terlebih dahulu saling mengenal silsilah keturunan para pihak untuk mengetahui apakah para pihak memang benar memenuhi persyaratan dan rukun perkawinan. Walaupun dalam pelaksanaan perkawinan itu tidak ada hal-hal yang bersifat Ta’abuddy, akan tetapi bentuk dan caranya bermacam-macam. Untuk itulah hendaknya kita harus berpegang kepada dasar-dasar prinsip pernikahan baik itu syarat maupun rukun di dalam perkawinan, sehingga dalam pelaksanaan perkawinan itu tidak mengurangi nilai-nilai ajaran Hukum Islam dan hukum nasional kita.



BAB I
P E N D A H U L U A N
A.    Latar Belakang
Perkawinan dalam Islam tidaklah semata-semata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa, akan tetapi ia mempunyai nilai ibadah. Maka amatlah tepat jika Kompilasi Hukum Islam menegaskannya sebagai akad yang sangat kuat (mitsaqon gholiidan) dan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadan (Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam).
Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada yang mampu untuk segera melaksanakannya, karena dengan perkawinan dapat mengurangi maksiat penglihatan, memelihara diri dari perbuatan zina. Oleh karena itu, bagi mereka yang berkeinginan untuk menikah, sementara perbekalan untuk memasuki perkawinan belum siap, dianjurkan berpuasa. Dengan berpuasa, diharapkan dapat membentengi diri dari perbuatan tercela yang sangat keji yaitu perzinahan. Dinyatakan dalam hadis riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW, bersabada yang artinya : Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya : “Hai pemuda, barangsiapa diantara kamu serta berkeinginan hendak nikah (kawin) hendaklah ia itu kawin (nikah), karena sesungguhnya perkawinan itu akan menjauhkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya dan akan memeliharanya dari godaan syahwat”.1
Perkawinan merupakan wadah penyaluran kebutuhan biologis manusia yang wajar, dan dalam ajaran Nabi, perkawinan ditradisikan menjadi sunnah beliau. Hadits riwayat Anas ibnu Malik, bahwa Sayalah yang paling bertaqwa kepada Tuhan, namun saya ini shalat, tidur, puasa, berbuka, dan aku menikah, itulah sunnahku barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku bukanlah umatku”.2
Indonesia merupakan negara yang heterogen dalam arti memiliki aneka suku bangsa dan agama. untuk peraturan yang dipakai dalam hal perkawinan secara keseluruhan adalah Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa untuk sahnya suatu perkawinan harus dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing. Sebagai mayoritas, untuk umat Islam hukum perkawinan yang berlaku adalah Hukum Islam, sedangkan untuk umat yang selain Islam dipakai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
Dari pengertian di atas tampak bahwa perkawinan merupakan hal yang memang disunnahkan oleh Rasul dan disenangi Allah. Namun dari ikatan perkawinan tidak menjamin bahwa sebuah keluarga akan mendapatkan kebahagiaan, adakalanya perkawinan memicu pertengkaran antara suami isteri dan karena berbagai sebab.
Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan, perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqangholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.
Hukum nikah ada 5 (lima) yaitu :
a.       Djaiz (diperbolehkan), ini asal hukumnya .
b.      Sunnat, bagi orang yang berkehendak serta cukup belanjannya (nafkah dan lain-lainnya)
c.       Wajib, atas orang yang cukup mempunyai belanja, dan dia takut akan tergoda kepada kejahatan (zina)
d.      Makruh, terhadap orang yang tak mampu memberi nafkah
e.       Haram, kepada orang yang berniat akan menyakiti atas perempuan yang dikawininya.3

Sudah menjadi kodrat alam, bahwa dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berlainan seorang wanita dan seorang laki-laki, ada rasa saling tertarik antara satu sama lain untuk hidup bersama. Hidup bersama ini sangat penting di dalam kehidupan bermasyarakat, bahwa dengan hidup bersama antara dua orang manusia itu, mereka tidak dapat memisahkan diri dari anggota-anggota lain dari masyarakat. Namun keputusan untuk hidup bersama ini harus berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Indonesia mengatur tentang hidup bersama yang disebut dengan lembaga perkawinan.
Salah satu hal yang menjadi permasalahan dalam hukum perkawinan saat ini adalah jumlah para pihak yang akan melangsungkan perkawinan. Salah satu contoh dapat dilihat pada perkawinan Dewi Tarumawati yang berada di Indonesia dengan Syarif Abdurrahman di Pittsburgh Amerika Serikat dengan perbedaan waktu 12 jam, melaksanakan perkawinan di kantor Indosat Landing Point Jalan Terusan Buah Batu Bandung.
Pernikahan Dewi Syarif sebenarnya hampir sama dengan pernikahan pada umumnya, ada mempelai wanita, wali nikah dan dua saksi. Perbedaannya, mempelai pria hadir tidak secara fisik melainkan dalam bentuk gambar di televisi. Jadinya, televisi ukuran 29 inci menjadi pusat perhatian puluhan kerabat yang hadir dalam acara tersebut, khususnya orang tua Dewi dan orang tua Syarif.4

Pernikahan tidak dihadiri calon suami bukanlah hal yang baru. Terlebih Undang-Undang Perkawinan telah mengatur masalah tersebut. Disebutkan, jika calon suami berhalangan hadir, bisa memberi surat kuasa kepada seseorang untuk mewakilinya. Pemberian surat kuasa tersebut dituangkan dalam surat ikrar wakil qobul. Dengan adanya surat kuasa tersebut seluruh rukun nikah telah terpenuhi, yaitu adanya mempelai wanita, mempelai pria, wali nikah dan dua saksi. Dengan  begitu, nikah tersebut sah.
Technical Support Fixed Midi PT. Indosat Nandang Ahmad menyebutkan :
Acara pernikahan menggunakan video teleconference merupakan yang pertama kalinya di Indosat Jabar. Kendati demikian, kegiatan di luar pernikahan yang memanfaatkan teknologi canggih tersebut sudah banyak. Selama tahun 2004 sudah 3 kali mengadakan video conference yaitu ke Spanyol (konsumennya PLN), ke Belanda (Politeknik Manufaktur Bandung), dan ke Amerika (RS. Borromeus). Ketiga kegiatan video conference tersebut menggunakan teknologi Integated Services Digital Network (ISDN) sehingga hasilnya seperti siaran langsung televisi.5

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengadakan penelitian sebagai sumbangsih pemikiran dalam meneliti tentang akad pernikahan yang dilakukan melalui teleconference, dengan judul : “TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN AKAD NIKAH MELALUI TELECONFERENCE”.
E. Landasan Teori
Untuk sahnya suatu perkawinan, maka salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah adanya ijab dan kabul, sebagai akad dari pernikahan.
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
Pertama, tidak disangsikan bahwa semua akad, selain akad nikah adalah sempurna (tanpa perselisihan para ulama di dalamnya), jika dilakukan melalui telepon, radio, televisi dan alat komunikasi tanpa kabel. Namun, pelaksanan akad nikah melalui alat-alat di atas mengandung kemungkinan adanya pemalsuan dan peniruan suara. Oleh karena itu, pada dasarnya akad itu sah, tetapi apabila salah seorang mendakwa bahwa suara itu bukan suara pihak yang terlibat dalam akad, maka ia harus membuktikannya dengan bukti-bukti yang cukup yang dapat diterima Pengadilan sebagai pemutus perkara. Karena ia ada penuntut, sedang bukti dibebankan kepada penuntut sebagaimana sumpah dibebankan kepada orang yang mengingkarinya.
Kedua, sesungguhnya akad nikah harus disertai oleh adanya saksi yang mendengarkan ijab dan qabul, karena kesaksian merupakan salah satu syarat sahnya pernikahan menurut jumhur ulama. Sedangkan menurut Malikiyah, kesaksian itu diwajibkan pada saat sebelum suami menggauli isterinya.
Sesungguhnya akad menggunakan alat telekomunikasi seperti telepon adalah sah dilakukan dalam berbagai akad yang tidak disyaratkan harus diserahterimakan dengan segera. Apabila jual beli itu berupa barang ribawi (tidak sepadan), maka akad  melalui telepon tidak sah kecuali jika penyerahan barang dapat dilakukan dengan sempurna, misalnya masing-masing pihak mempunyai wakil yang dapat menyerah terimakan barang itu atau dengan perantaraan bank masing-masing pihak yang dapat dipercaya atau perantaraan lain berkenaan dengan serah terima barang. Hal ini adalah seperti ditunjukkan oleh hadist shahih dan ijma’ ulama. Diantaranya adalah hadis shahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dari al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘janganlah kamu berjual beli emas dengan emas, dan jangan pula berjual beli perak dengan perak kecuali sepadan’.6
Dalam hadis shahih lain disebutkan, “Rasulullah SAW, melarang berjual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan pewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali sepadan dan sama barangnya. Apalagi jual beli itu antara jenis yang berbeda, maka juallah sesukamu dengan syarat kontan’.7
Sesungguhnya majelis akad lewat telepon atau alat komunikasi lain tanpa kabel dan yang sejeninya berakhir seiring dengan terhentinya pembicaraan kecuali pada akad lelang, dimana para fuqaha Malikiyah berpendapat bahwa seorang yang menyatakaan kerelaannya dengan harga tertentu dalam lelang, maka ia tidak boleh menariknya kembali walaupun sudah lama. Al-Allamah al Shawi berkata, ‘adanya jeda antara ijab dan qabul dalam jual beli tidak merusak, kecuali jika ia telah meninggalkan/keluar dari jual beli dengan melakukan pekerjaan lain, menurut kebiasaan dan pengertian setempat. Dan seorang penjual berhak mengikat pembeli dalam jual beli lelang walaupun untuk jangka waktu yang lama, selama kebiasaan setempat tidak menganggap jual beli lelang itu telah terputus.8
Berdasarkan hal di atas, penulis menyimpulkan bahwa bila seseorang beerhubungan lewat telepon dengan pengelola lelang lalu menyatakan qabulnya dengan harga tertentu kemudian menutup telepon dalam keadaan tetap mempertahankan harga itu, maka tidak ada pilihan lain baginya selain menerima akad. Ini adalah pendapat yang bertanggung jawab karena hal ini dapat menjaga akad dari ekses kesia-siaan, kebimbangan, dan merepotkan orang. Bila akad itu tidak diterima tentu akan menyebabkan kerugian bagi si penjual, sebab lelang dihentikan semata karena penelepon itu, dan apabila ia menarik akad, tentu hal ini akan menimbulkan kerugian dan hal semacam ini dilarang oleh syari’ah. Rasul SAW. bersabda  . “tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri”.9
Ketiga, pernyataan penulis bahwa majelis akad lewat telepon berakhir seiring dengan terputusnya pembicaraan, adalah apabila salah seorang dari mereka tidak memberikan batas waktu kepada pihak lain atau tidak mensyaratkan khiyar atau batas waktu, maka pihak yang memiliki batas waktu bisa menyatakan qabul pada waktu yang telah ditentukan.





1Mohd. Idris Ramulyo., Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis Dari UU No. 1 Tahun1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, h.11
2Ibid., hal.13.
3Ibid., h.21.
4Nikah Jarak Jauh via Teleconference, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, Tanggal 4 Desember 2004
5 Ibid
6 Ali Muhyiddin Al-Qurahdaghi., Fiqh Digital, Qonun, Jakarta, 2003,h.46
7 Ibid.,h.46.
8 Ibid.,h.47.
9 Ibid.,h.54




DAFTAR ISI

ABSTRAK....................................................................................................          i
KATA PENGANTAR..................................................................................         ii
DAFTAR ISI.................................................................................................         iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.....................................................................         vi
BAB   I     :   P E N D A H U L U A N.......................................................         1
A.     Latar Belakang Penelitian..................................................         1
B.   Identifikasi Masalah...........................................................         5
C.   Tujuan Penelitian................................................................         5
D.   Kegunaan Penelitian...........................................................         5
E.    Landasan Teori...................................................................         6
BAB    II   : TINJAUAN PUSTAKA........................................................         9
A.      Pengertian Perkawinan......................................................         9
B.       Unsur-Unsur dan  dan Syarat Perkawinan........................        13
C.       Akibat Hukum Perkawinan...............................................        19
D.      Teknologi Teleconference dan Teori Kebenarannya..........        22
BAB  III   : METODE PENDEKATAN...................................................        32
A.    Lokasi Penelitian.................................................................        32
B.     Spesifikasi Penelitian dan Metode Pendekatan..................        32
C.     Metode Pengumpulan dan Analisis Data...........................        32
D.    Sistematika Penulisan.........................................................        33
BAB  IV   :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...................        35
A.    Kedudukan Akad Nikah Yang Dilakukan Melalui
Teleconference ...................................................................        35
B.     Akibat Hukum Terhadap Adanya Pelaksanaan Akad
      Nikah Melalui Teleconference............................................        45
BAB   V    : KESIMPULAN DAN SARAN..............................................        49
A.    Kesimpulan.........................................................................        49
B.     Saran-Saran.........................................................................        49
DAFTAR BACAAN


 

SYARAT UNTUK MENDAPATKAN FILE LENGKAP….!!!
File yang tertera diblog ubah saja objeknya biar cepet, ganti saja dengan yang terbaru, kemudian sesuaikan, untuk objek, ubah saja objek jadi tempat yang rencananya anda teliti, beres kan?
File yang anda inginkan bisa konfirmasi ke No. HP ini 0852 6208 9526 atau 0819 6067 526 untuk mendapatkan file skripsi lengkap (bab1-sampai selesai) dalam bentuk document. Dengan mememenuhi biaya admin di bawah setelah anda melakukan transfer ke:
No Rek BRI  3529-01-026884-53-8  WAHYU RISHANDI (Cab. MARIENDAL MEDAN)
DENGAN NILAI NOMINAL TRANSFER Rp. 100.000/Judul Skripsi
ANGGAP SAJA UNTUK GANTI PENGETIKAN SKRIPS LENGKAP DALAM FORM DOC DAN PENGELOLA BLOG INI.
PELUANG KERJASAMA
kalau ingin untung, sebarin saja ke teman-teman judul di blog ini dan naikan saja harganya
kalau ada kesulitan sms atau contact aja ke No HP saya atau Add FB ya way@id-fb.com
UNTUK PEMESANAN
SETELAH TRANSFER SMS AJA KE 0852-6208-9526 atau 0819-6067-526
DENGAN ISI SMS:
Nama, alamat E-mail anda serta judul yang anda inginkan.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012 - 2013. Wahyu Rishandi, SH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Re Design by Doza | Proudly powered by Blogger