JUDUL SKRIPSI: SUAP UNTUK PROTEKSI KEAMANAN DALAM IBADAH HAJI (Sebuah Analisis Terhadap Pendapat Al-Nawawi).



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Blakang Masalah
Melaksanakan ibadah haji ke baitullah al-Haram merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim yang telah mampu untuk melaksanakannya.  Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ali-Imran ayat 97 :
ﻮﷲﻋﻟﻰﺍﻧﺎﺴﻰﺣﺝﺍﻟﺒﻳﺖﻣﻦﺍﻟﺴﺗﻄﺎﻉﺍﻟﻳﻪﺴﺴﺒﻳﻞ
Artinya :
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang yang sanggup ke Baitullah”1
Rasulullah SAW menegaskan bahwa barang siapa yang telah mampu melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak melaksanakannya hingga ia mati, maka ia adalah orang yang telah melakukan dosa. Bahkan menurut suatu hadits orang tersebut diidentikkan seperti matinya orang Yahudi atau nasrani, Nabi bersabda :
ﻣﻦﻣﻠﻚﺯﺩﺍﻭﺭﺍﺣﻠﺔﺕﺐﻠﺨﺔﺍﻟﻰﺍﻟﺐﻴﺖﺍﷲﻭﻟﻢﻳﺣﺞﻓﻼ
     2ﻋﻠﻴﻪﺍﻥﻳﻤﻮﺕﻳﻬﻮﺩﻳﺎﺍﻮﻧﺼﺮﺍﻧﻴﺎ
           


Artinya :
Barang siapa yang memiliki bekal  dan kenderaan yang dapat menyampaikan ke Baitullah, tetapi ia tidak melaksanakan ibadah haji, maka ia akan mati sebagai seorang Yahudi atau nasrani (HR. Turmuzi).
Ibadah haji adalah merupakan salah satu rukun Islam yang mesti ditegakkan di dalam kehidupan seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda :


                                    3
Artinya :
Islam dibina atas lima dasar, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa ramadhan dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.
Pada dasarnya kewajiban ibadah haji itu bukanlah bersifat kifayah, tetapi merupakan kewajiban bagi setiap individu (fardhu ;ain) bagi orang yang mampu. Di dalam literatur fiqh Islam dinyatakan bahwa orang yang diwajibkan terhadap pelaksanaan ibadah tersebut aialah orang beriman, baligh, berakal, merdeka. Selanjutnya kewajiban itu ditambah lagi dengan kewajiban yang disebut “telah memenuhi istita’ah” Al-Istita’ah didefenisikan ulama sebagai “suatu kemampuan untuk sampai ke tanah suci”. Kemampuan itu mencakup tiga unsur, pertama adalah kemampuan badaniyah, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kesehatan jasmani, kedua kemampuan maliyah yaitu kemampuan yang berkaitan dengan belanjaa dan biaya untuk melaksanakan ibadah haji, dan ketiga disebut dengan kemampuan keamanan dalam ibadah tersebut baik itu berkaitan dengan perjalanan maupun dengan pelaksanaannya.
Dalam kajian Islam, permasalahan kemampuan amaniyah tersebut ditemukan perbedaan pendapat. Sebagian menggariskan kemampuan itu mencakup permasalahan suap haji. Artinya. Jika keamanan dalam melaksanakan ibadah haji tersebut harus dengan mengeluarkan suap sebagai proteksi keamanannya dan seseorang itu mampu secara ekonomis untuk melakukannya, maka menurut Ibni Abidin kewajiban haji tersebut telah disebabkan kepadanya. Sebagaimana pada pernyataan beliau yaitu : “Diwajibkan haji, dalam keadaan aman perjalanan dengan (memandang) biasanya perjalan itu selamat, sekalipun dengan melakukan suap”4
Segolongan ulama lain mengatakan bahwa apabila keamanan itu baru diperoleh setelah melakukan suap, maka seseorang itu tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah haji, sekalipun ia mampu untuk melaksanakannya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh an-Nawawi sebagai berikut :
“Dan jika jalan itu aman tetapi perlu adanya biaya yang diambil di jalanan untuk memelihara (keamanan) maka tidak wajib dilaksanakan ibadah haji, karena itu merupakan suap terhadap sesuatu yang wajib, dengan demikian tidaklah hal tersebut mesti dilaksanakan”5
Berdasarkan ungkapan di atas dapat dipahami bahwa melaksanakan ibadah haji itu diwajibkan apabila tidak ditemukan adanya unsur suap sebagai proteksi keamanan di dalam menjalankannya, tetapi jika unsur-unsur suap ditemukan maka seseorang itu tidak dijatuhkan beban untuk melaksanakan ibadah haji.
Dari keterangan yang telah dikemukakan  di atas maka dapat dipahami bahwa terdapat suatu  permasalahan di seputar hal tersebut. Permasalahan tersebut adalah bahwa pada satu sisi Ibn Abidin dan ulama fiqh Hanafi lainnya mewajibkan ibadah haji bagi mereka yang mampu melakukan suap untuk proteksi keamanannya di dalam melaksanakan ibadah haji, dan pada sisi yang lain al-Nawawi dan kelompok Syafi’I berpendapat bahwa, tidak jauh kewajiban ibadah haji jika harus melakukan suap untuk proteksi keamanannya di daam melaksanakan ibadah haji tersebut. Beranjak dari permasalahan tersebut, penulis berkeinginan untuk mengangkatnya menjadi kajian ilmiah dengan judul : “SUAP UNTUK PROTEKSI KEAMANAN DALAM  IBADAH HAJI (Sebuah Analisis Terhadap Pendapat Al-Nawawi).

B.     Perumusan Masalah
Dalam kajian ini dapat dirumuskan beberapa masalah untuk mempertajam pembahasannya, maka permasalahannya adalah :
1.      Bagaimana sebenarnya pendapat al-Nawawi tentang permasalahan suap untuk proteksi keamanan dalam melaksanakan ibadah haji ?
2.      Apa alasan yang dikemukakan al-Nawawi dalam mendukung pendapatnya?
3.      Bagaimana relevansi an-Nawawi tersebut dalam konteks yang sekarang ?

C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pendapat al-Nawawi tentang permasalahan suap untuk proteksi keamanan dalam melaksanakan ibadah haji.
2.      Untuk mengetahui apa alasan yang dikemukakan al-Nawawi dalam mendukung pendapatnya.
3.      Untuk mengetahui bagaimana relevansi an-Nawawi tersebut dalam konteks yang sekarang.

D.    Kerangka Pemikiran
Ulama sepakat bahwa istita’ah (kemampuan) merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjalankan ibadah haji.  Aan tetapi mereka berbeda pendapat dalam hal penjabaran makna istita’ah ini. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Ibn Abidin berpendapat bahwa istita’ah dalam perjalanan ibadah haji mencakup  suap. Artinya jika ibadah haji baru dapat dilaksanakan dengan melakukan suap, maka ia harus melakukannya karena sudah tergolong sebagai orang yang mampu (al-mustati’). Konsekuensi logisnya tentu ia sudah termasuk ke dalam kategori wajib haji. Alasan pendapatnya ialah :

                                                            6
Artinya :
Tidaklah ditinggalkan suatu kewajiban karena maksiat yang melakukannya.
Kaedah ini mengungkapkan bahwa suatu kewajiban yang dibebankan kepada seseorang tidak dapat terhalang disebabkan adanya orang lain yang melakukan maksiat. Sebab masing-masing bertanggung jawab terhadap perbuatannya masing-masing. Oleh sebab itu dosa orang lain yang melakukan maksiat tidak terkait dengan orang lain. Adapun an-Nawawi beralasan dengan hadis Nabi yang mengatakan bahwa:
7
Artinya :
Dari Sauban ia berkata, melaknat Rasulullah saw orang yang menyogok dan menerima sogoan dan perantaranya.
Hadits di atas menjelaskan bahwa suap itu diharamkan dan mencakup seluruh yang tergolong padanya, tidak terkecuali dalam hal melaksanakan ibadah haji. Kemudian al-Nawawi beralasan dengan hadits nabi yang berbunyi :


Artinya :
“Siapa yang tidak menunaikan ibadah haji sementara tidak ada yang menghalanginya berupa penyakit, keperluan yang nyata atau penguasa yang jahat, maka matilah ia seperti matinya orang Yahudi dan nasrani”8.
Hadits di atas menjelaskan bahwa melaksanakan ibadah haji itu wajib jika tidak ada tiga hal yang telah disebutkan di atas. Jika hal tersebut ditemukan, maka konsekwensinya tidaklah wajib haji baginya. Penguasa atau seseorang yang berkuasa terhadap satu wilayah yang mengharuskan adanya suap  untuk proteksi keamanan dalam melaksanakan ibadah haji tersebut termasuk ke dalam cakupan maksud hadis tersebut. Oleh karena itu maka tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji bagi orang yang dikenai suap tersebut.
E.     Sistematika Penulisan
Agar penelitian ini lebih tersistem, maka penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I   adalah Pendahuluan yang berisikan : Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, dan Sistematika Penulisan.
Bab II adalah Metode Penelitian dengan menguraian : Jenis Penelitian, Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Analisis Data.
Bab III adalah Tinjauan Umum Tentang Haji, yang menguraikan tentang : Pengertian dan Dasar Hukum Haji, Akibat Hukum Bagi Orang yang Mengingkari Haji, Syarat dan Rukun Haji, Hikmah Melaksanakan Haji,
Bab IVadalah Suap Dalam Pandangan Islam yang menguraikan : Pengertian Suap, Dasar Hukum Keharaman Suap dan Ancaman Hukumnya, Beberapa contoh Suap Dalam Awal Sejarah Islam,
Bab V  adalah Suap Untuk Proteksi Keamanan Dalam Ibadah Haji Menurut An-Nawawi yang menguraikan : Sekelumit Tentang Biografi Imam an-Nawawi, Pendapat An-Nawawi        , Alasan An-Nawawi, Analisa Penulis.
Bab VIadalah penutup dari pembahasan skripsi ini yang menguraikan Kesimpulan dan Saran       


BAB II
METODE PENELITIAN

Sebagai langkah penelitian dalam kajian ini, penulis menggunakan beberapa metode :
A.    Jenis Penelitian
Dalam kajian ini data yang diteliti adalah data yang berhubungan dengan topik yang dikaji, yaitu mengenai Suap. Untuk proteksi keamanan dalam ibadah haji (Sebuah analisis terhadap pendapat al-Nawawi).

B.     Sumber Data
Dikarenakan penelitian ini sebagai penelitian pustakan (kajian literatur) maka sumber data yang diteliti diklasifikasikan  kepada :
1.      Sumber Primer
Yaitu sumber berupa buku yang ditulis oleh al-Nawawi seperti majmu’ Syarh al-Muhazzab dan lainnya.
2.      Sumber Skunder
Yaitu sumber pendukung untuk melengkapi sumber primer di atas yang ditulis oleh berbagai kalangan pemikiran hukum Islam dari berbagai mazhab khususnya imam Syafii dan literatur lainnya


C.    Teknik Pengumpulan Data
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, maka pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara penelaahan teks dari referensi primer dan skunder dari berbagai litertur

D.    Analisis Data
Analisis dan pengolahan data penulis lakukan dengan metode content analisis yakni metode yang berusaha memahami sistem pemikiran dengan jalan merekonstruksi kerangka pemikiran karya yang sedang diteliti.
Adapun pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan falsafi, yakni pendekatan sistematis didasarkan pada hasil pemikiran ulama atau tokoh-tokoh tertentu mengenai suatu objek atau bidang tertentu yang dikonstruksikan secara sistematis dan mendalam dengan menjelaskan pemikirannya, kaitannya dengan faktor internal, eksternal dan lapangan kerjanya. Dalam hal ini penulis menggunakan pola pikir sebagai berikut ;
a.       deduktif yaitu penulis akan membuat suatu kesimpulan umum dari masalah yang khusus
b.      Induktif yaitu mengambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang umum


1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1992, hlm.92.
2 Abi ‘Isa Muhammad ibn Isa ib Syuraikh, Al-Jami’ ash-Shahih (Sunan at-Turmuzi),  Juz III, Dar al-Hadits, al-Qahirah, hm.167.
3 Bukhari, Shahih Bukhari, Juz III, Dar al-Fikr, Libanon, t,t hlm.31.
4 Ibn Abidin, Radd al-Mukhtar, Juz, Musthafa al-Baby al-Halabiy, Kairo, Mesir, 1996, hlm.463.
5 An-Nawawi, Al-Majmu Syarh al-Muhazzab, Juz VII, Dar al-Irsyad, Saudi, t.t, hlm.62.
6 Imam Hanafi, Fath al-Qadir,  Juz II, dar al-Fikr, t,t. t.p, hlm.416.
7 Ahmad bin Hanbal, Munsal Imam Ahmad, Juz V, Dar ash-Shanun, Tunisia, t.t, hlm.279
8 Abu al-Ula, Tuhfah Ahwazj, Juz III, dar al-Jutub, Mesir, t.t. hlm.457.

SYARAT UNTUK MENDAPATKAN FILE LENGKAP….!!!
File yang tertera diblog ubah saja objeknya biar cepet, ganti saja dengan yang terbaru, kemudian sesuaikan, untuk objek, ubah saja objek jadi tempat yang rencananya anda teliti, beres kan?
File yang anda inginkan bisa konfirmasi ke No. HP ini 0852 6208 9526 atau 0819 6067 526 untuk mendapatkan file skripsi lengkap (bab1-sampai selesai) dalam bentuk document. Dengan mememenuhi biaya admin di bawah setelah anda melakukan transfer ke:
No Rek BRI  3529-01-026884-53-8  WAHYU RISHANDI (Cab. MARIENDAL MEDAN)
DENGAN NILAI NOMINAL TRANSFER Rp. 100.000/Judul Skripsi
ANGGAP SAJA UNTUK GANTI PENGETIKAN SKRIPS LENGKAP DALAM FORM DOC DAN PENGELOLA BLOG INI.
PELUANG KERJASAMA
kalau ingin untung, sebarin saja ke teman-teman judul di blog ini dan naikan saja harganya
kalau ada kesulitan sms atau contact aja ke No HP saya atau Add FB ya way@id-fb.com
UNTUK PEMESANAN
SETELAH TRANSFER SMS AJA KE 0852-6208-9526 atau 0819-6067-526
DENGAN ISI SMS:
Nama, alamat E-mail anda serta judul yang anda inginkan.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Wahyu Rishandi, S.H., M.Si Updated at: 01.44

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers